MAU JUJUR SOAL PRIBADI SAYA
 

..........Dua  belas tahun setengah saya bekerja di Balikpapan, ...dan
hampir 2 tahun overall saya berada di Paris...ada ceritera yang menarik
ketika saya tinggalkan Balikpapan di pertengahan tahun 1999 (9 tahun lalu)
saat saya pindah dari TOTAL Balikpapan ke TOTAL Jakarta...yaitu saya dapat
kado berupa sajak dari mantan anak-anak buah saya (lebih dari 20 orang),
mereka bekerja tersebar di Balikpapan base dan lapangan Handil (yang setiap
hari saya telepon jam 6 pagi dari Balikpapan ke lapangan Handil yang
berjarak tempuh 80 km itu) ...inilah sajak itu:

----------
Pak Deden Supriyatman
saat...terdengar nama itu, seketika itu juga
kita akan teringat pada sosok pria karir
yang terus berkarir dan berkarir...tiada hentinya

Kita akan teringat
pada ide-idenya yang sungguh amat banyak
hingga...saking banyaknya
membuat kami mula-mula tak memahami maknanya
dan ..yang tinggal hanyalah kesan cerewetnya

Kita juga akan teringat
betapa sayangnya dia akan bawahannya
pada si A...dia akan bertanya tentang si B
tentang si C, si D, si E hingga si Z
dan hingga akhirnya bukanlah sayang itu yang kami rasa

Kita akan teringat
lecutan-lecutannya yang menderu bagai ombak menerpa sang karang
mengajak kita untuk berprestasi
namun saking seringnya lecutan itu terasa
hanya satu tanya yang terucap...apa sih maunya ?

Dan kita akan teringat
pada perfectionistnya yang memang selalu tak akan pernah terpuaskan
lagi-lagi...hanya satu tanya yang terucap
seperti gimana sih maunya ?

Tidak hanya hari...atau minggu...atau bulan...
bahkan tahun hingga berganti tahun...
kesan itu kami rasakan dan kami ingat...

Seiring berjalannya sang kala
seiring berseminya sang dewasa
kami menyadari...sebenarnya niatnya sangat baik
demi kemajuan kami

...dan kini....
tibalah saatnya engkau meninggalkan kami
Sejuta kenangan takkan pernah lepas dari ingatan
sejuta  impian dan harapan takkan pernah usang
dunia baru...yang memang baru...
dan perlu untuk karirmu...

Pak Deden
semoga sukses
doa kami menyertai

...dan kini...
kami akan selalu merindukan dering telepon tepat jam 6 pagi

Handil, Kalimantan Timur, 27 Juni 1999